Selembar Uang, Berkorban Celaka (Cerpen) Oleh Dita F. Alverina


Angin bertiup sangat kencang, matahari pun hanya memancarkan secerca sinarnya, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 11 siang, suhu udara mulai menurun,  hujan sepertinya akan segera datang. Di dalam sebuah rumah kontrakan di pinggiran sungai, daerah Bandung Timur, seorang wanita yang sudah lanjut usia umurnya kira-kira 60 tahunan mencoba menenangkan seorang bayi yang terus-menerus menangis.

Penampilannya seperti seorang ibu rumah tangga biasa, daster panjang berwarna ungu dengan corak bunga putih melekat di tubuhnya, kerudung putih yang warnanya sudah kekuningan selalu ia pakai untuk menutupi mahkotanya, dan satu hal yang selalu ia pakai yaitu sebuah kacamata minus, badannya yang tidak terlalu gemuk, tingginya sekitar 168cm cukup semampai bagi seorang wanita yang sudah lanjut usia,  Ua Esih, begitulah orang-orang dan tetangga dekat kontrakannya memanggilnya.

Sejak tiga bulan terakhir, semenjak anaknya Ua Esih, Ani, menitipkan kedua jagoannya kepada Ua Esih. Ua Esih menjadi kelimpungan, hari-harinya selalu ditemani oleh teriakan dan tangisan dari cucu-cucunya itu. Ani bukan tanpa sebab menitipkan anaknya kepada Ibunya, suami Ani meninggalkan dirinya dan ternyata suaminya telah menikah lagi dengan wanita lain, hal ini mengakibatkan Ani dan kedua anaknya terlantar, karena tidak lagi diberi nafkah oleh sang suami. Oleh sebab itu, Ani harus banting tulang membiayai keluarga. Kebetulan ia mendapat pekerjaan di Jakarta yang menyebabkan dirinya harus meninggalkan kota Bandung.

Di rumah kontrakan, Ua Esih tinggal dengan cucunya yang lain bernama Redi, ibu Redi telah lama meninggal dunia sejak Redi berusia lima tahun dan sekarang dia sudah berumur 12 tahun. Sehingga Redi sejak kecil diasuh oleh nenek dan kakeknnya, yakni Ua Esih dan suaminya. Redi merupakan anak yang hyperactive, tidak mau diam. Enam bulan yang lalu suami Ua Esih sakit stroke, setelah berjuang melawan penyakitnya, akhirnya beliau dipanggil oleh Maha Kuasa. Dan sekarang, Ua Esih tinggal dengan ketiga cucu laki-lakinya, yaitu Redi, dan kedua anak Ani, yakni Yudha dan Razak.

Keadaan ekonomi yang kurang baik, membuat kehidupan Ua Esih dan cucunya mengalami kesusahan. Suatu hari yang mendung, sejak pagi mereka belum menyantap makanan sedikitpun. “Mah, lapar eung.” Ungkap Redi ketika membuka meja makan yang isinya hanya panci kosong. Tanpa menghiraukan omongan cucunya, Ua Esih masuk ke dapur, matanya menatap ke seluruh sudut dapur, wadah demi wadah ia buka, beras pun tidak ada, apalagi sayur-mayur. “Ntar de, beli dulu berasnya.” Tutur Ua Esih mencoba memberi harapan pada Redi. Redi dan Yudha memang selalu memanggil dengan sebutan ‘Mamah’ pada neneknya itu.

Sementara itu, Razak yang masih balita sedang tertidur dan tiba-tiba menangis, sehingga Yudha ikut terbangun karena suara tangisan itu. “Yud, mandi dulu jug.” Ujar Ua Esih sambil menggendong Razak dan membawanya keluar kamar.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi matahari enggan membagi sinarnya untuk menghangatkan bumi. Udara dingin masuk ke setiap celah-celah rumah kontrakan Ua Esih, hal ini membuat perut kosong Ua Esih dan cucunya semakin perih. Termasuk razak yang sejak tadi tidak hentinya menangis. Ia tahu bahwa persediaan susu Razak telah habis, sejak sore kemarin. “Mah, Dede mau pergi ke rumah temen heula nya.” Ungkap Redi pamit kepada neneknya. Biasanya Redi selalu meminta uang sebelum ia pergi dari rumah, tetapi saat itu, ia tahu bahwa neneknya tidak memilki uang, sehingga ia tidak meminta sepeser uangpun dan langsung pergi.

Suara tangisan Razak semakin memekakan telinga Ua Esih, ia mengisi botol susu Razak dengan air teh manis hangat, lalu memberikan pada Razak. Sementara waktu, Razak terdiam menikmati air teh manis tersebut. Sambil terus menggendognya dalam keadaan berdiri, Ua Esih berkata, “Jeep, jeep, suut, suut.” Kata Ua Esih sambil menepuk-nepuk pantat Razak.

Setelah selesai mandi, lalu memakai baju bola berlogo real madrid, Yudha langsung pergi dan mengambil sepedanya untuk bermain. Terlihat teman-teman Yudha sambil mengendarai sepeda masing-masing sudah berkumpul di depan jalan rumahnya.
Air teh manis dalam botol Razak sudah habis, diluar tiba-tiba hujan mulai turun, Ua Esih mulai khawatir dengan kedua cucunya yang hingga pukul 11 siang belum pulang, “Kamarana barudak teh, hujan-hujan kieu bukannya diam di rumah!” Ungkap Ua Esih menggertak pada dirinya sendiri sambil melihat ke luar jendela.

Razak terus menerus menangis, tangisannya semakin keras hingga seperti berlomba dengan suara hujan yang deras. Ua Esih bingung, karena dia sama sekali tidak mempunyai uang sepeserpun, Razak tetap tidak mau berhenti menangis meski sudah di gendong oleh neneknya. Lama kelamaan Ua Esih kesal, akhirnya membiarkan Razak terbaring di atas kursi, sambil terus menangis. Ua Esih mengerutkan kening dengan tangannya, ia menatap tajam ke arah cucunya itu, ia paham, ia merasa berdosa membuat cucunya dalam keadaan lapar. Setiap kali melihat Razak, hatinya benar-benar sakit, seperti ingin menangis. Razak yang ketika masih ada sang Ayah, selalu terpenuhi kebutuhannya, sedangkan sekarang keadaan berbanding 180 derajat dengan kehidupannya dahulu yang serba berkecukupan. Sekarang harus menahan lapar karena sang Nenek selalu berada dalam kesusahan, jangankan untuk membeli susu, untuk makanpun kadang terpenuhi kadang tidak.

Hujan malah semakin deras, kekhawatirannya semakin tinggi, sebenarnya jika tidak hujan deras, Ua Esih akan pergi meminjam uang ke rumah adiknya yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya. Meminjam pada tetangga itu tidak mungkin, karena ia tidak terlalu akrab dengan mereka. Dalam benaknya, ia berkata, “ternyata jauh dari saudara atau keluarga tidak enak”

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, Yudha dan Redi belum juga pulang. Razak dengan sendirinya berhenti menangis, mungkin dia kelelahan, hingga akhirnya ia tertidur di pangkuan Ua Esih. Mata Ua Esih sedikit berlinang, ketika menatap cucunya yang masih balita itu tertidur. Setelah itu, ia langsung mengambil air wudhu untuk mendirikan shalat dzuhur. Ia meminta kepada Tuhan, agar keluarganya selalu dilindungi oleh Tuhan, dan ia selalu meminta agar diberi kekuatan dalam menghadapi cobaan-cobaan hidup. 

Televisi menyala dari tadi, tetapi Ua Esih tidak fokus menonton tv, ditambah suara petir yang menyambar mengakibatkan perasaannya semakin tidak karuan memikirkan kedua cucunya yang berada di luar.
Tiba-tiba disaat suara petir menggelegar, Yudha datang dalam keadaan basah kuyup, baju bolanya kotor dipenuhi lumpur, satu hal yang mengagetkan adalah kepalanya berdarah, sambil membuka pintu, seraya berkata “Assalamualaikum, mah ini Yudha dapat uang.” Tutur Yudha menyodorkan uang lima puluh ribu kepada neneknya.
“Waalaikum salam, Yudhaaa kamu teh darimana saja, kotor kitu, itu kenapa kepalamu berdarah.” Seru Ua Esih yang asalnya akan marah,  tetapi ia pendam karena melihat kepala Yudha yang bercucur darah.

“Mah, ini Yudha dapat uang.” Ungkap Yudha sekali lagi, sambil terus menyodorkan selembar uang itu pada Ua Esih.

“Uang darimana ini teh? Kamu nyuri ya, dari siapa jangan bohong kamu!” Ujar Ua Esih memarahi Yudha.

Kepala Yudha geleng-geleng, badannya kedinginan, sesekali menggigil, “Gak Mah, Gak, ini tadi dikasih sama orang, beneran dikasih gak ngambil Yudha mah.” Sahut Yudha meyakinkan neneknya itu.

“Bener kamu gak nyuri, nak?” Tanya Ua Esih sekali lagi. “Beneran Mah, Yudha ga nyuri, ini di kasih orang.” Ujar Yudha dengan nada sedikit kesal. Akhirnya Ua Esih mempercayai apa yang dikatakan cucunya, tanpa menanya dari siapa uang itu dan kenapa kepala Yudha berdarah, Ua Esih langsung menyuruh Yudha membeli susu ke supermarket mini terdekat, “Alhamdulillah atuh, sok pangbeliin susu buat si Razak, sekalian mie instan sama telor setengah kilo.” Ungkap Ua Esih.

Hujan masih deras, tanpa berpikir panjang, karena mungkin terlalu senang, Ua Esih malah menyuruh Yudha yang sedang terluka untuk membeli barang makanan. Setelah Yudha pergi, Ua Esih baru sadar, bahwa cucunya sedang terluka, ia berkata pada dirinya sendiri, “Ya Allah, Astagfirulloh, kasihan si Yudha kepalanya kan tadi bercucur darah, kenapa saya suruh pergi lagi.” Tuturnya menyesal.

Setelah itu, selang berapa menit kemudian Redi pulang, keadaannya basah kuyup juga. “De, darimana ai kamu, cepat mandi sekalian keramas, biar ga sakit kepala.” Kata Ua Esih sambil melemparkan sebuah handuk.

Yudha datang dengan membawa barang beliannya, Ua Esih langsung membersihkan darah yang berada di kepala Yudha dengan sebuah kain. Lalu menyuruhnya untuk mandi dan mengganti baju.

Ua Esih pergi ke dapur, menyalakan kompor gasnya untuk memasak mie instan. Ia melihat Yudha menciumi kening adiknya yang sedang tertidur. Saat mereka sedang menikmati mie instan, Razak terbangun. Sesegera mungkin Ua Esih membuatkan susu yang sudah dibeli Yudha tadi. Razak tidak menangis lagi, dia mulai senang dan bermain dengan kakak-kakaknya.

Hari semakin sore, hujan mulai berhenti. Hingga matahari terbenam, Yudha mengatakan sesuatu pada neneknya, “Mah, tadi Yudha teh ditabrak motor, pas naik sepeda, terus orang yang naik motor itu ngasih uang lima puluh ribu.” Tutur Yudha sambil menyunggingkan sebuah senyuman. “Astagfirullohaladzim, Yudhaa.” Ujar Ua Esih, matanya meneteskan air mata lalu memeluk Yudha. Dalam hatinya terbesit kata-kata “Apa harus terluka dulu, baru bisa mendapat uang.”

Related Post



Posting Komentar