Sesosok
laki-laki terlihat berkilauan di bawah sinar matahari, tubuh mengkilap berbalut
silver. Dari ujung rambut sampai ujung kaki semua berpoles cat berwarna perak,
membawa kotak kardus yang bertulisan “Peduli Yatim-Piatu”. Menunggu di
perempatan lampu merah untuk meminta
sumbangan dari para pengguna jalan raya. Itulah yang biasa disebut manusia
silver.
Beberapa
bulan terakhir ini, kita sebagai warga kota Bandung sering melihat sesosok
manusia yang semuanya serba silver dibeberapa perempatan jalan raya. Sosoknya
yang unik dan tidak biasa mencuri sebagian pengguna jalan raya yang melewati.
Munculnya manusia silver ini, menjadi pertanyaan apakah dia seorang peminta
sumbangan bagi anak yatim-piatu atau hanya cara baru seorang pengemis untuk
meminta-minta dengan dalih peduli yatim-piatu.
Badan
tanpa baju dipoles dengan cat berwarna perak hampir menutupi seluruh rambut,
wajah dan tubuhnya, hanya memakai celana pendek serta membawa kardus sumbangan.
Di bawah tulisan “Peduli Yatim-Piatu” itu terdapat tulisan lagi yaitu“Komunitas
Silver”. Itulah yang menjadi ciri khas manusia silver yang ada di perempatan
Jalan Buah Batu Bandung. Saat lampu merah menyala, dia mulai melakukan aksinya
meminta sumbangan pada para pengguna kendaraan. Aksinya bisa kita lihat sekitar
pukul 09.00 pagi sampai 17.00 sore.
Mereka menyodorkan kotak sumbangan itu
kepada pengguna kendaraaan, ada beberapa sambil menari-nari layaknya robot.
Karena rasa peduli terhadap anak yatim-piatu atau hanya sekedar memenuhi
kebutuhan sehari-hari mereka rela melakukan aksi tersebut.
Jika
diamati cat yang digunakan adalah cat semprot, mereka mengecat sampai
benar-benar menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan bagian matanya yang
hitam. Jarang sekali para pengguna kendaraan memberikan uang kedalam kardus tersebut.
Mengingat nama panti asuhan, atau alamat
jalannya yang mereka sebut-sebut sebagai tempat tujuan penyaluran uang
sumbangan tidak jelas asal-usulnya. Karena tidak tertera dalam kardus sumbangan
tersebut, sehingga banyak menimbulkan keraguan.
Dalam
aksinya ada beberapa yang sambil bergaya layaknya sebuah robot luar angkasa,
ditambah dengan mimik mukanya yang datar. Umurnya sekitar 20 tahunan, apabila
mereka menyembut dirinya sebagai komunitas silver yang peduli terhadap anak
yatim-piatu ini merupakan pekerjaan yang mulia.
Karena mereka rela berdandan
seperti itu di tengah teriknya matahari sambil menyodorkan kotak sumbangan
tanpa mempedulikan rasa malunya. Tapi jika itu mereka lakukan untuk sekedar
memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan dalih rasa peduli sama saja dengan
pengemis yang menggunakan metode baru.
![]() | |
| manusia silver bandung |
Dilihat
dari ketidakjelasan informasi tentang tempat panti asuhan yang mereka
gadang-gadang sebagai tujuan penyaluran dana sumbangan. Dengan kata lain,
apakah ini hanya sebuah trik baru dari cara seorang pengemis dalam
meminta-minta uang? Sebagai warga Bandung apakah kita merasa nyaman dengan
keberadaan manusia silver itu, yang semakin banyak memenuhi beberapa perempatan
jalan raya? sungguh disayangkan bila benar manusia silver ini hanya cara mengemis
baru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan dalih rasa peduli anak
yatim-piatu yang sebenarnya hasil uang sumbangan itu mereka gunakan sendiri.(Dita Fitri Alverina)



Posting Komentar